Langsung ke konten utama

Postingan

Perempuan-Perempuan yang Nongkrong di Angkringan (Refleksi Hari Kartini)

Katanya perempuan masa depan Tapi perilakumu sungguh memalukan Katanya perempuan harapan bangsa Tapi kau hanya suka tebar pesona Katanya ingin mengangkat derajat wanita Tapi waktumu kau gunakan dengan sia-sia Wahai kalian yang katanya Kartini masa kini Sudahkah kalian merenung hari ini? Untuk inikah Ibu Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan? Apakah kalian tahu bagaimana ia berjuang? Sudahkah kalian mewujudkan harapannya? Sudahkah kalian berjuang mati-matian mewujudkan mimpinya? Hidupnya dia habiskan untuk memperjuangkan kalian Harta, jiwa dan raganya telah dia korbankan demi kalian Demi kalian hidup dengan selayaknya Tapi apa yang kalian lakukan? Kau bilang perempuan itu harus jaga kehormatan Tapi setiap hari kau nongkrong di angkringan Kau bilang kau adalah pejuang hak-hak perempuan Tapi kau sangat suka mendapatkan puji-rayuan Apakah kau sadar; sudahkah kau melaksanakan kata-kata yang sering kau umbar? Kau bilang, ibu adalah sekolah pertama dan yang paling ...
Postingan terbaru

Komitmen Harga Mati: Hukuman yang Mencerdaskan

  Bagi Monash Institute, disiplin adalah komitmen. Dalam konteks ini, komitmen adalah harga mati yang tidah dapat ditawar-tawar. Rumah Perkaderan Tahfidh al-Qur’an ini memang benar-benar menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi. Bahkan, santri-santrinya pun diberi sebutan disciples, yang artinya orang-orang yang berdisiplin, dengan maksud bahwa di sana memang sangat menekankan kepada kedisiplinan. Untuk melatih kedisiplinan disciples, disediakan buku presensi kehadiran pada setiap agenda. Dengan adanya buku presensi tersebut, maka akan diketahui siapa saja yang terlambat dan siapa saja yang tepat waktu. Biasanya disciples yang terlambat diharuskan menulis sendiri di buku presensi tersebut berapa lama mereka terlambat; lima menit, sepuluh menit, atau bahkan lebih. Penulisan waktu keterlambatan yang dilakukan sendiri-sendiri itu selain bertujuan untuk melatih kedisiplinan, juga sekaligus untuk melatih kejujuran. Pemberlakuan presensi merupakan sebuah upaya untuk menenamkan sifat keju...

Kawah Candradimuka Monash Institute

  Saya rasa banyak hal yang saya dapatkan selama saya berada di Monash Intitute Semarang. Dan selama di sini pula banyak sekali perubahan dan perkembangan yang terjadi pada diri saya yang saya rasakan. Ya, memang banyak sekali. Di tulisan kecil ini, akan saya ceritakan apa saja hal itu. Sebelum Masuk Monash Memang, dari dulu saya belum pernah mondok sama sekali di pondok pesantren mana pun. Sebelumnya, saya hanya ngaji di madrasah dan di rumah salah satu ustadz di kampung saya. Madrasah di kampung saya ada dua jenis: Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyyah Awwaliyyah (MDA). Madrasah TPQ dimulai dari pukul 13.00 WIB sampai 15.00 WIB, sedangkan Madrasah MDA dimulai dari pukul 16.00 WIB sampai 17.00 WIB. Tidak cukup dengan itu, setelah Maghrib saya juga melanjutkan mengaji kepada ustadz di kampung saya, yang rumahnya dijadikannya sebagai tempat mengaji bagi anak-anak dan ibu-ibu. Malam Rabu sampai malam Senin dipakai untuk mengaji bagi anak-anak, sedangkan malam Selasan...

Terkadang, Penghargaanmu Itulah yang Menyulutkan Api Semangatnya

Seketika dia jadi penulis handal yang tak terbantahkan. Sebelumnya, dia bukanlah seorang penulis yang hebat. Bukan pula orang yang dikenal sebagai seorang penulis. Bahkan, ketika dipaksa-paksa untuk menulis pun, dia ogah-ogahan. Sampai orang yang memaksa itu pun kelelahan dalam menyuruhnya menulis, tetap saja dia tidak mau menulis. Entah apa yang ada di pikirannya. Padahal dia hidup di antara para penulis handal. Tapi anehnya, dia sendiri saja yang bukan penulis (lebih tepatnya, belum tampak bakat menulis pada dirinya). Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun; dia jalani laiknya orang yang tak pernah mengenal tulis-menulis. Hingga pada suatu ketika, ada kelas menulis yang diadakan atas usulan salah seorang temannya dengan dibimbing langsung oleh guru menulisnya. Semua orang wajib ikut. Tanpa terkecuali. Mereka diberi waktu satu jam untuk dapat menyelesaikan tulisan masing-masing. Satu persatu dari mereka mengungkapkan kepada seluruh peserta judul yang aka...

Belajar Radikal dengan I’rab al-Qur’an

Kalau mendengar kata radikal, bayangan kita pasti akan langsung tertuju kepada terorisme, yang merupakan kelompok Islam yang suka melakukan pengeboman. Sekilas kata radikal terdengar sebagai suatu hal yang sesat, membahayakan merupakan suatu ancaman, dan oleh karena itu harus dihindari. Namun, apa yang akan terjadi kalau dikatakan bahwa dengan al-Qur’an, kita bisa belajar menjadi orang yang radikal. Sebenarnya, kalau kita tahu makna radikal yang sesungguhnya, maka hal itu merupakan sesuatu biasa-biasa saja. Radikal, secara bahasa artinya seakar-akarnya. Berpikir radikal berarti berpikir mendalam sampai seakar-akarnya. Lalu mengapa kata radikal selalu dikaitkan dengan kelompok-kelompok sesat yang suka menteror? Begitu pula dengan kata fundamental. Kalau kita mendengar kata fundamental, kita pasti juga akan berpikiran bahwa itu merupakan suatu hal yang sesat. Padahal, fundamental sendiri artinya dasar, sumber; bukan suatu hal yang berkonotasi negative apalagi sesat. Sebenarnya, kata radi...

Mohammad Nasih dan Pencarian Bukti Kebenaran al-Qur'an

  “ Excellent with al-Qur’an ”, jargon itu tidaklah semata-mata muncul tanpa peristiwa yang luar biasa. Sudah dapat dipastikan, seseorang yang menjadikan al-Quran sebagai motto hidup adalah orang yang benar-benar paham dan memiliki hubungan erat dengan al-Qur’an. Benar saja, jika memperhatikan riwayat hidup Abah Nasih yang bahkan sempat tidak percaya pada Tuhan akan tergambar bagaimana fase hidayah itu mulai masuk dalam diri Abah Nasih, sehingga dapat mempercayai al-Quran bukan hanya sebatas percaya, melainkan sampai mempunyai argumentasi yang dapat diterima oleh akal. Excellent  sendiri artinya adalah luar biasa atau unggul. Tidak sedikit orang akan mengaitkan “unggul” itu dengan profesi atau akademisi. Berbeda dengan Abah Nasih yang mengaitkan unggul dengan al-Qur’an. Baginya, seseorang yang unggul adalah orang yang mampu menghafal al-Qur’an dengan baik dan memahami serta mengamalkan isinya. Anggapan itu tidak terlepas dari pencarian Abah Nasih selama hidupnya dari sejak...

Memahami al-Qur’an untuk Rambu-Rambu Kehidupan

  Hidup di zaman akhir seperti sekarang ini diperlukan tameng yang kuat untuk dapat mempertahan diri dari segala macam pengaruh, ajaran, dan ideologi yang sesat-menyesatkan. Kita perlu sesuatu yang dapat menyelamatkan diri kita dari kesesatan, yang dapat berdampak pada kerugian tidak hanya di dunia, tetapi bahkan juga di akhirat. Allah Swt. telah menganugerahkan sebuah kitab pedoman dan petunjuk hidup agar kita khususnya umat muslim selamat di dunia dan akhirat, yaitu al-Qur’an. Yang dinamakan petunjuk berarti kita harus tahu artinya, agar bisa memahami maksud yang disampaikan di dalamnya, baru kemudian bisa menjadikannya sebagai penuntun dalam menjalani kehidupan. Tetapi kalau tidak tahu artinya, maka apakah al-Qur’an bisa disebut sebagai petunjuk?  Namun, itulah yang terjadi pada sebagian besar umat Islam di akhir zaman ini. Mereka tidak tahu arti dan maksud yang disampaikan di dalam al-Qur’an. Lebih parah lagi, bahkan membacanya pun enggan. Mereka lebih senang membicara...