Cita berbalut cinta. Tak semudah yang dibayangkan.
Cinta memberi nyawa
tuk melahirkan kata-kata. Cinta dapat memberikan ruh pada kata, sehingga
menjadi lebih bermakna.
Aku ingin
mencintaimu, meski sewaktu-waktu jiwa ‘kan berpisah dengan raga.
Aku ingin
mencintaimu, meski sewaktu-waktu matahari ‘kan berpindah arah terbitnya.
Aku ingin
mencintaimu. Aku ingin slalu bersamamu.
Namaku
Hasan. Aku sangat ingin jadi bagian dari para penjaga kalam suci Tuhan yang
terangkai dalam bentuk puisi itu, al-Qur’an. Setelah semester 4 selesai, aku
ambil cuti kuliah selama satu semester. Jadi, aku tidak kuliah pada semester 5.
Pilihan nekat itu kuambil agar aku dapat menyelesaikan hafalan al-Qur’anku.
Ketika sudah memasuki liburan semester 4, aku berangkat ke Planet NUFO yang
berada di Desa Mlagen, Kecamatan Pamotan, Kabubaten Rembang, Provinsi Jawa
Tengah untuk menghafalkan al-Qur’an.
Memang
tidaklah ringan mengambil pilihan itu, karena aku harus berpisah dengan
teman-teman. Bahkan, tidak hanya itu. Dengan mengambil cuti demi menghafal
al-Qur’an, itu artinya aku juga mengambil jalan yang berbeda dengan mereka. Hal
itu memang berat, tapi harus kulakukan. Agar aku berhasil menggapai apa yang
aku cita-citakan.
Oh
iya, mungkin perlu kuceritakan dahulu bahwa sebelum menghafal di Planet
NUFO-Rembang, aku sudah mondok di Monash Institute Semarang. Di sana, aku masuk
dalam angkatan 2018. Mereka semua baik padaku. Setiap kali aku mengalami
kesulitan, mereka sering membantuku. Aku menyayangi mereka. Hingga pada suatu
ketika, aku harus meninggalkan mereka sejenak demi menghafal al-Qur’an di
Planet NUFO-Rembang, menjadi peserta Program Tahfidh 10 bulan.
Mengambil
pilihan sadar untuk menempuh jalan berbeda
Kamis,
2 Juli 2020, aku berangkat dari Semarang menuju Rembang. Setelah sholat dhuhur
berjamaah, aku langsung berangkat, dan sampai di Rembang sekitar pukul setengah
lima sore. Sesampainya di sana, aku istirahat dulu, merilekskan badan karena
kecapekan setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga setengah jam.
Barulah keesokan harinya, yaitu pada tanggal 3 Juli, aku mulai menghafal al-Qur’an.
Setiap
pagi dan sore aku menambah hafalan. Pagi satu halaman, sore satu halaman. Tiap
kali setelah selesai setoran, aku langsung memurajaahnya agar tidak hilang
begitu saja. Sebab, menghafal itu untuk diingat, bukan sekadar lewat, jadi
harus sering-sering dirawat.
Hal
itu kujalani setiap hari tanpa kenal lelah. Tak ada sedetik pun waktu yang
terbuang sia-sia. Menambah, murajaah, menambah lagi dan murajaah lagi, hingga
kurangkai jadi satu juz lengkap dan siap untuk disimakkan kepada Abah. Agar hafalan
jadi semakin melekat dan berkualitas, aku selalu murajaah (mengulang hafalan)
minimal enam juz setiap hari, atau yang setara dengan enam juz. Bisa dengan
beberapa juz yang berbeda atau satu bahkan setengah juz yang diulang-ulang
sampai setara dengan enam juz. Dan agar kualitas hafalan lebih baik lagi,
biasanya aku memurajaahnya dengan simaan berpasangan.
Sebelum
disimakkan kepada Abah—sebutan Abah biasanya disematkan kepada seorang pengasuh
pada sebuah pondok pesanteren—biasanya setiap juz yang sudah kuhafal itu aku
simakkan terlebih dahulu secara berulang kali kepada teman-teman Program
Tahfidh 10 Bulan lainnya dan juga kepada ustadzah yang telah ditunjuk oleh
Abah. Barulah setelah kesalahan tidak sampai lebih dari 20 kali, aku langsung
menyimakkannya kepada Abah.
Kutemukan
cinta di dalam cita
Hari
terus berlalu, siang-malam silih berganti. Tanpa kusadari, waktu sudah berjalan
satu bulan, karena diriku selalu tersibukkan dengan mengejar target dan simaan.
Hingga pada suatu ketika, aku bertemu dengan seorang wanita. Parasnya elok nan
mempesona. Setiap kali kudegar kalam suci yang sedang dia baca, aku sering
berhenti sejenak untuk mendengarkannya, menikmati setiap huruf yang dia
lantunkan dengan sangat fashih yang membuatku terpana. Suaranya yang merdu
menambah keindahan bacaannya, sehingga dapat membuat setiap orang yang
mendengarnya menjadi terhenti seketika karena terpesona.
“Assalamu’alaikum,”
aku menyapanya dengan mengucap salam ketika berpapasan dengannya pada suatu
pagi hari.
“Wa’alaikumussalam,”
jawabnya dengan lembut dan sopan.
“Mbak
Faizah, mau ke mana nih?”
“Mau
murajaah, Bang.”
“Kita
simaan, yuk, Mbak.”
“Boleh.
Di gazebo depan sana, ya.”
“Ayok.”
Kami
berjalan menuju gazebo di depan Planet NUFO. Gazebo itu hampir 100% terbuat
dari bambu, kecuali beberapa paku dan kawat. Di sana terdapat tiga buah gazebo.
Setiap gazebo sengaja didesain dengan ukuran lebar 2 meter. Satu orang di
sebelah pojok kanan, satunya lagi di pojok kiri. Hal itu dimaksudkan untuk
menghindari pencontekan teks al-Qur’an ketika sedang simaan. Dengan begitu,
simaan akan lebih efektif, sehingga hafalan menjadi lebih melekat.
“Mbak
Faizah dulu apa saya dulu nih yang mau disimak?”
“Abang
Hasan dulu aja?”
“Oke.
Tolong simakkan saya juz 16, ya.”
“Oke.
Ayo mulai.”
Sejak
saat itu, setiap pagi setelah setoran hafalan, kami selalu simaan agar hafalan
kami jadi semakin melekat. Aku menyimaknya, dia pun kemudian menyimakku. Atau
sebaliknya; dia dulu, baru kemudian aku.
***
Banyak
keuntungan/kelebihan yang bisa didapat dari simaan berpasangan dibanding
murajaah sendiri. Di antaranya, selain untuk mengetes kualitas hafalan, dengan
simaan, terkadang kita juga baru akan menyadari bahwa ada suatu ayat yang
ternyata selama ini kita salah dalam membacanya. Jika tidak pernah disimak oleh
orang lain, mungkin kita tidak akan pernah menyadari bahwa ternyata ayat itu,
kita salah membacanya.
Dengan
simaan pula, kesalahan yang diingatkan oleh orang lain akan lebih teringat
dalam memori otak dibanding jika kita murajaah sendiri. Bahkan, di dalam kitab Ta’lim
al-Muta’allim
juga dikatakan: “Tiada sesuatu yang lebih bisa menguatkan
hafalan seseorang dibanding membaca al-Qur’an dengan menyimak.” Sebab, membaca
al-Qur’an yang dilakukan dengan menyimak itu lebih utama, sebagaimana sabda
Nabi saw., “Amalan umatku yang paling utama adalah membaca al-Qur’an dengan
menyimak tulisannya.”
Di Ta’lim
al-Muta’allim pula dikisahkan bahwa seseorang bernama Syadad bin Hakim
pernah bermimpi bertemu temannya yang telah mati, lalu bertanya: “Perbuatan
apakah yang engkau rasakan lebih bermanfaat?” Jawabnya:
“Membaca al-Qur’an dengan menyimak tulisannya.”
Itulah
mengapa, simaan itu sangat penting bagi para penghafal al-Qur’an.
***
Suatu
hari, setelah simaan, kami ngobrol sebentar, sejenak tuk beristirahat. Aku pun
memulai percakapan.
“Mbak
Faizah,” aku mengawali percakapan.
“Iya,
ada apa, Bang?” jawabnya.
“Kenapa
ya, akhir-akhir ini saya sering terbayang-bayang wajah Mbak? Setiap malam saya
sering tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, muncul wajah Mbak Faizah
di depan saya. Dan jujur saja, setiap kali melihat Mbak Faizah, hati saya
menjadi berbunga-bunga dan jantung saya juga berdebar lebih kencang daripada
biasanya.”
“Lha
Bang Hasan sendiri bagaimana; apa yang Bang Hasan rasakan?” balasnya. “Coba
tanyakan pada hati Bang Hasan,” tambahnya setelah tertunduk sebentar.
“Apa
mungkin, saya jatuh cinta pada Mbak Faizah?”
“Ah,
jangan ngaco deh, Bang,” sautnya dengan segera ketika aku bilang seperti itu
kepadanya.
Aku
menatap matanya, dan dia pun juga menatap mataku tetapi dengan agak sedikit
gemetar.
“Mbak
Faizah,” saya masih menatapnya, dan badannya pun semakin gemetar. “Saya jatuh
cinta padamu, Mbak.”
“Apa
sih Bang Hasan ini. Jangan ngaco, deh. Fokus pada al-Qur’anmu dulu. Mungkin itu
cobaan, Bang. Jangan sampai hal itu menjadi penghambatmu dalam mengahafal
al-Qur’an,” pungkasnya sembari memalingkan wajahnya dan dengan agak gemetar
karena kata-kataku tadi.
Aku
menghela napas sebentar.
“Lalu,
kalau Mbak Faizah sendiri bagaimana?” timpalku. “Apakah Mbak Faizah juga
memiliki rasa yang sama dengan saya?”
Dia
merunduk, tersipu malu. Terdiam sebentar.
“Emm…
sebenarnya… sebenarnya saya juga suka Bang Hasan,” jawabnya sedikit merunduk
dan tersipu malu.
“Benarkah?”
sautku dengan girang.
“Tapi
saya malu untuk mengungkapkannya, apalagi saya ini ‘kan cewek. Jadi, tidak etis
rasanya kalau saya yang mengungkapkannya terlebih dahulu,” pungkasnya.
Ketika
mendengar jawabannya itu tadi, hatiku merasa gembira bercampur takut. Gembira
karena ternyata dia juga mencintaiku. Takut karena khawatir akan ucapannya
sebelumnya, bahwa cintaku ini malah akan menjadi penghambatku dalam menghafal
al-Qur’an. Padahal, tujuan utamaku datang ke Planet NUFO sampai mengorbankan
kuliahku adalah hanya untuk menghafal al-Qur’an.
“Sebenarnya
saya sangat bahagia ketika tahu bahwa ternyata Mbak Faizah juga mencintai saya.
Tapi, saya juga takut, Mbak. Saya takut kalau cinta saya ini hanya akan menjadi
cobaan saya dalam menghafal, sehingga hafalan saya menjadi terganggu dan
kacau.”
“Abah
pernah berkata,” aku melanjutkan. “Cinta itu kata kerja. Kita bisa memilih
untuk meneruskan atau menghentikan. Jika baik untuk masa depan, lanjutkan. Jika
tidak baik untuk masa depan, temukan cinta yang lain.”
“Ya,
Abah benar,” tambahku sambil merenungi perkataan Abah itu tadi. “Terkadang,
cinta itu datang secara tiba-tiba. Kita tidak bisa meminta ataupun menolaknya;
kapan datangnya dan kepada siapa. Tetapi, kita masih punya pilihan untuk
melanjutkan atau menghentikannya.”
Aku
masih merenungi perkataan Abah itu tadi, “Jika cintaku ini dapat membuatku jadi
lebih baik, kualitasku makin meningkat, dan aku jadi semakin dekat dengan
Allah, maka berarti itu adalah cinta yang baik. Tetapi, jika cintaku ini malah
membuatku jadi lebih buruk, kualitasku menurun, bahkan aku malah jadi semakin
jauh dari Tuhan, maka berarti itu adalah cinta yang buruk. Maka aku harus
segera meninggalkannya.”
“Mbak
Faizah,” aku menatapnya lagi. “Kalau cinta kita ini nantinya malah hanya akan menjadikan
kita semakin buruk, terutama dalam hal hafalan; hafalan kita jadi terganggu,
maka kita harus segera menghentikan cinta kita ini dengan cara saling menjauh
satu sama lain.”
“Dan
menurut saya,” aku melanjutkan. “Kita harus menghentikannya saat ini juga,
Mbak. Jangan menunggu hal buruk menimpa kita terlebih dahulu, baru kita mau
berubah. Bukankah tujuan kita ke sini untuk menghafal al-Qur’an, bukan?”
“Iya,
Bang,” pungkasnya. “Mungkin ini adalah cobaan kita. Kita harus segera
menyingkirkannya terlebih dahulu mulai saat ini. Agar hafalan kita tidak
terganggu. Saya juga tidak ingin hafalan Bang Hasan terganggu gara-gara saya.
Jika nanti kita memang berjodoh, Allah pasti akan mempersatukan kita.”
“Semoga
saja begitu, Mbak. Aamiin.”
“Aamiin.”
Oleh:
Rojul al-Munir, Peserta Program Tahfidh 10 bulan di
Planet NUFO

Komentar
Posting Komentar